1. Gudeg
Sudah pasti semua orang kalau
ditanya apa makanan khas Jogja yang pernah dicoba, jawabannya seragam.
Gudeg. Sebenarnya ada beberapa jenis gudeg, gudeg basah, gudeg kering, dan
gudeg ala Solo. Lho, katanya khas Jogja tapi kok ala Solo ya? Hahaha.
Gudeg ala Solo punya areh atau kuah yang berwarna putih. Di Jogja, jarang sih
yang jualan gudeg areh putih ini, adanya ya di Solo.
Gudeg basah, tentunya ya basah
alias berkuah meski sedikit. Gudeg basah ini contohnya gudeg-gudeg yang dijual
oleh Yu Djum, Bu Ahmad Barek, Bu Tjitro dan sebagainya. Gudeg kering, ya
kering. Tanpa kuah. Gudeg kering sangat cocok dijadikan oleh-oleh, karena tahan
sampai beberapa hari. Sentra penjualan gudeg kering di kampung Wijilan.
2. Oseng-oseng Mercon
Buat kamu para penyuka masakan
pedas, coba tantangan masakan Oseng-oseng Mercon khas Jogja, yang warungnya
bisa kamu temui di penggalan Jalan KH Ahmad Dahlan ini. Oseng-oseng ini adalah
masakan daging sapi dan lemak, yang dicampur dengan cabai hingga pedasnya luar
biasa. Siapkan air minum yang banyak ya, kalau kamu mau coba menu kuliner khas
satu ini.
3. Bakmi Jawa
Memasak mi memang bisa dengan
banyak cara. Tapi rasa yang ada di bakmi Jawa memang sangat khas, yang konon
dihasilkan dari cara memasaknya yang menggunakan anglo, atau kompor tanah liat.
Warung bakmi Jawa yang sangat terkenal di Jogjakarta ada banyak, misalnya
saja Bakmi Kadin, Bakmi Harjo Geno, Mbah Mo, Mbah Hadi, Bakmi Pele dan lain
sebagainya.
4. Bakpia
Camilan tradisional khas paling
populer di Jogja adalah bakpia. Dulu, bakpia hanya berisi kacang ijo yang
dihaluskan. Sekarang, ada banyak varian rasa bakpia, ada cokelat, keju, durian,
stroberi dan sebagainya. Sentra pembuatan bakpia ada di Pathuk, sebelah barat
Malioboro (sekitar 10 menit naik becak). Tapi penjualannya sih ada di banyak
tempat. Bakpia juga awet, cocok kalau mau dibawa sebagai oleh-oleh.
5. Geplak
Geplak, yang merupakan makanan
tradisional khas Bantul ini, terbuat dari parutan kelapa, yang dicampur dengan
gula aren lalu dibentuk bulat-bulat, rasanya sangat manis. Dulu geplak hanya
diproduksi satu warna satu rasa, sekarang sudah berkembang berbagai varian
rasa. Ada geplak cokelat, durian, stroberi dan lain-lain. Warga Bantul dulu
mengolah kelapa dan gula menjadi geplak, dan menjadikannya sebagai makanan
sehari-hari saat masa paceklik.
6. Peyek tumpuk
Masih dari Bantul, kamu musti
coba juga peyek tumpuk. Peyek ini sebenarnya rempeyek kacang seperti yang biasa
banyak dijumpai dan kita makan. Hanya saja alih-alih berbentuk bundar dan
pipih, peyek tumpuk kacangnya numpuk-numpuk hingga sekepalan tangan orang
dewasa. Peyek tumpuk pertama kali diproduksi oleh Mbok Tumpuk, tapi sekarang
peyek tumpuk bisa kamu jumpai di mana saja di daerah Bantul.
7. Ampyang
Ampyang merupakan camilan khas
Jawa yang terdiri atas kacang yang dicampur dengan gula jawa atau gula kelapa.
Paling cocok nih dimakan di sore hari yang gerimis, sambil menyeruput teh jahe
panas. Wahhh!
8. Sate klatak
Satenya sih dari daging kambing
biasa. Yang unik, daging-daging ini ditusuk dengan jeruji roda sepeda. Bumbunya
juga nggak aneh-aneh, hanya garam saja. Sate klatak pertama ada di warung Mbah
Ambyah, Jejeran Pleret Bantul. Namun, sekarang kamu bisa menemui banyak warung
sate klatak di mana-mana.
9. Sate Karang
Di daerah lapangan Karang
Kotagede, ada warung sate yang terkenal dengan hidangan sate Karang-nya.
Satenya khas, karena disuguhkan dengan lontong dan irisan tempe berkuah.
Hidangan ini tak bisa ditemukan di lain tempat, jadi pastikan kamu cobain ya.
Pasti akan nagih lagi.
10. Yangko
Ini dia kue moci-nya
Jogjakarta. Terbuat dari tepung beras, agak lengket kalau dikunyah dan ditaburi
tepung dibungkus kertas minyak warna-warni. Rasanya persis kue moci, tapi sekarang
juga bertambah varian rasanya seperti halnya bakpia dan geplak.
11. Kipo
Kipo merupakan makanan khas
Jogja, tepatnya dari Kotagede. Kamu bisa mendapatkannya di pasar tradisional di
Kotagede. Bahan dasar kipo adalah tepung ketan, isinya parutan kelapa yang
dicampur dengan gula kelapa. Warna hijaunya didapat dari daun suji. Rasanya
legit-legit gurih.
12. Getuk
Di daerah Magelang, ada getuk
yang sangat terkenal yaitu getuk Trio. Kamu barangkali juga pernah nyobain
getuk lindri, yang bentuknya terdiri atas singkong yang dihaluskan dan
digiling. Nah, barangkali kamu belum pernah nyoba makan getuk yang paling
tradisional ini. Getuk tradisional yang dijual di pasar-pasar tradisional dalam
tampah yang besar, diiris-iris lalu ditaburi parutan kelapa. Sensasi rasa gurih
dan manisnya sempurna banget.
13. Gatot
Gatot yang ini bukanlah nama
orang, tapi nama makanan tradisional. Seperti getuk, gatot juga terbuat dari
singkong, lebih tepatnya dari gaplek (singkong yang dikeringkan). Warnanya kehitaman
dan lengket di tangan, hingga mungkin bagi beberapa orang, kenampakan gatot
memang tidak menarik. Tapi, tunggu dulu. Coba dulu dimakan sambil dicocolkan ke
parutan kelapa. Wuah! Enak banget! Antara manis dan gurih, berpadu dengan
seimbang.
14. Thiwul, hampir sama seperti getuk tradisional, juga terbuat dari singkong cuma berbeda sedikit di proses memasaknya. Dulu penduduk Gunung Kidul mengolah singkong menjadi thiwul pada masa penjajahan Belanda untuk mengganti beras. Thiwul juga bisa ditemukan di berbagai pasar tradisional di Jogjakarta.
15. Cenil
Cenil, juga terbuat dari
singkong yang dihaluskan. Wah, ternyata banyak ya, makanan yang terbuat dari
singkong yang khas dari Jogja? Cenil ini lebih menarik, karena biasanya diberi
warna yang meriah dengan pewarna makanan; merah, oranye, hijau, dan di atasnya
ditaburi kelapa. Sangat menggugah selera, apalagi kalau sudah dimakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar